Penyebaran Kebudayaan Neolitikum Sebagai Pengaruh pada Indonesia

Victoria Suryatmi

Kebudayaan Neolitikum, atau juga dikenal sebagai Zaman Batu Baru, merujuk pada periode ketika manusia mulai mengadopsi pola hidup agraris, yaitu bercocok tanam dan beternak hewan. Periode ini merupakan langkah awal dalam perkembangan manusia dari pemahaman kolektor ke pemahaman petani, dan biasanya dikaitkan dengan munculnya revolusi agrikultur. Penyebaran kebudayaan ini berdampak besar pada masyarakat di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Sejarah Singkat Kebudayaan Neolitikum

Kebudayaan Neolitikum dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu di kawasan Timur Tengah, seperti Mesir, Levant (wilayah yang sekarang berada di Jordan, Israel, Lebanon, dan Suriah), dan Anatolia (wilayah yang sekarang berada di Turki). Dari sana, kebudayaan ini menyebar ke berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia.

Penyebaran Kebudayaan Neolitikum ke Indonesia

Kebudayaan Neolitikum dibawa ke Indonesia melalui dua jalur utama, yaitu jalur darat dan jalur laut. Jalur darat terjadi melalui Asia Tengah dan daratan Asia, sedangkan jalur laut melibatkan perdagangan maritim antarnegara dan wilayah.

Pada saat itu, masyarakat di Indonesia masih hidup dalam kebudayaan Paleolitikum atau Zaman Batu Tua, di mana mereka mengandalkan perburuan dan pengumpulan makanan. Namun, dengan kedatangan sekelompok manusia yang membawa budaya Neolitikum, terjadi perubahan signifikan dalam cara hidup masyarakat Indonesia.

Dampak Penyebaran Kebudayaan Neolitikum di Indonesia

  1. Perubahan Pola Hidup: Kedatangan kebudayaan Neolitikum membawa perubahan pola hidup dari perburuan dan pengumpulan makanan menjadi bercocok tanam dan beternak. Hal ini berdampak besar pada produksi pangan dan keberlimpahan sumber daya masyarakat Indonesia.

  2. Pengenalan Teknologi Baru: Kebudayaan Neolitikum membawa teknologi baru seperti penggunaan alat batu yang lebih canggih, seperti kapak genggam dan alat-alat pertanian seperti cangkul. Pengenalan teknologi ini membantu dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan beternak di Indonesia.

  3. Perkembangan Permukiman: Kebudayaan Neolitikum mendorong pembentukan permukiman tetap, yang merupakan tanda perubahan signifikan dalam pola hidup manusia. Permukiman tetap ini menjadi pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia pada masa itu.

  4. Perdagangan: Penyebaran kebudayaan Neolitikum juga mendorong perkembangan perdagangan antarwilayah di Indonesia. Produk-produk hasil pertanian dan peternakan bisa diperdagangkan dengan wilayah lain, memperluas jaringan perdagangan dan memperkaya kehidupan masyarakat.

BACA JUGA:   Perbedaan Kebudayaan Pacitan dan Ngandong

Kesimpulan

Kebudayaan Neolitikum membawa perubahan besar dalam masyarakat Indonesia. Penyebaran kebudayaan ini membawa perubahan pola hidup, pengenalan teknologi baru, perkembangan permukiman, dan perdagangan yang semakin berkembang. Dampak positif dari penyebaran kebudayaan Neolitikum terus terasa hingga saat ini, dengan kebanyakan masyarakat Indonesia masih bergantung pada pertanian dan peternakan sebagai mata pencaharian utama.

Also Read

Bagikan: