Kebudayaan yang Dibawa oleh Deutro Melayu

Padma Astuti

Kebudayaan yang dibawa oleh Deutro Melayu memegang peranan penting dalam membentuk kehidupan masyarakat di wilayah Asia Tenggara. Periode Deutro Melayu, juga dikenal sebagai zaman proto-Melayu, terjadi sekitar 1500 SM hingga 500 M dan dikenal sebagai masa ketika masyarakat Melayu pertama kali berinteraksi dengan budaya India dan Tiongkok.

Pengaruh Budaya India

Salah satu pengaruh terbesar yang dibawa oleh Deutro Melayu adalah adopsi sejumlah elemen budaya India. Kebudayaan India, khususnya agama Hindu dan agama Buddha, memainkan peranan penting dalam membentuk kehidupan religius dan spiritual masyarakat Asia Tenggara. Deutro Melayu mengadopsi sistem agama dan filsafat India, dan hal ini tercermin dalam peninggalan arkeologi seperti candi-candi Hindu dan Buddha yang ditemukan di wilayah ini.

Budaya India juga turut mempengaruhi sistem kehidupan sosial masyarakat Deutro Melayu. Mereka mengadopsi sistem kasta dan bahasa Sanskerta menjadi bahasa keagamaan dan masyarakat intelektual. Sistem kasta membentuk struktur sosial yang memengaruhi pembagian peran dan pekerjaan dalam masyarakat.

Pengaruh Budaya Tiongkok

Selain budaya India, budaya Tiongkok juga memberikan pengaruh yang signifikan pada kebudayaan Deutro Melayu. Melalui jalur perdagangan maritim, Deutro Melayu memasuki jaringan perdagangan yang luas dan mulai memiliki kontak dengan Tiongkok. Komoditas seperti rempah-rempah, biji perak, dan kayu gaharu menjadi barang dagangan yang diminati oleh pedagang Tiongkok.

Pengaruh budaya Tiongkok terutama terlihat dalam sistem sosial-politik Deutro Melayu. Masyarakat Deutro Melayu mengadopsi beberapa elemen pemerintahan Tiongkok, seperti sistem birokrasi dan cara menjalankan pemerintahan yang terorganisir. Mereka juga mengadopsi sistem penulisan Tulisan Cina yang masih terlihat dalam prasasti-prasasti atau kitab-kitab kuno Melayu.

BACA JUGA:   Pengaruh Bahasa Sanskerta dalam Kebudayaan: Buddhayah yang Berarti

Pengaruh Budaya Lokal

Selain pengaruh budaya India dan Tiongkok, peran budaya lokal juga tidak bisa diabaikan. Masyarakat Deutro Melayu memiliki kekayaan budaya sendiri sebelum berinteraksi dengan budaya asing. Contohnya, seni dan kerajinan tradisional seperti ukiran kayu dan anyaman merupakan warisan budaya lokal yang terus berkembang hingga saat ini. Beberapa teknik pertanian seperti sawah tadah hujan juga berasal dari budaya lokal yang ditemukan di wilayah ini.

Kebudayaan lokal juga tercermin dalam seni pertunjukan, seperti tarian dan musik tradisional. Tarian seperti tari Topeng dan tari Kuda Lumping merupakan contoh kebudayaan lokal yang masih dilestarikan hingga sekarang. Selain itu, makanan tradisional seperti rendang, nasi lemak, dan satay juga merupakan bagian dari kebudayaan lokal Melayu yang turut mempengaruhi cita rasa kuliner di Asia Tenggara.

Kesimpulan

Kebudayaan yang dibawa oleh Deutro Melayu memiliki akar yang kuat dari budaya India dan Tiongkok, dengan tambahan unsur-unsur budaya lokal yang beragam. Interaksi antara budaya-budaya ini menghasilkan percampuran, adaptasi, dan pengembangan kebudayaan baru yang menjadi identitas masyarakat di wilayah Asia Tenggara. Kebudayaan Deutro Melayu tetap relevan hingga kini, mengingat pengaruh yang mereka bawa telah membentuk landasan kehidupan sosial, agama, bahasa, dan seni di daerah ini.

Also Read

Bagikan: